Monthly Archives: May 2014

“Like Father Like Son”

Pada week ke-36, ketika itu pertandingan antara Manchester United melawan Norwich City. Pertandingan yang ditunggu-tunggu oleh fans Red Devil karena ini adalah pertandingan perdana Ryan Giggs sebagai caretaker atas pemecatan David Moyes.
MU menjalani pertandingan ini dengan cukup baik, sangat menjanjikan bagi kubu Red Devil, dimana mereka mampu membobol 4 gol gawang norwich dengan mencatatkan cleansheet. Sementara itu, fans Red Devil langsung bereaksi memberi puja-puji bagi sang pelatih. Salah satunya adalah munculnya istilah “Fergie and Giggs like father like son”. Ya mungkin, mereka sudah menemukan kembali kekuatan yang telah lama hilang. Karena puja-puji tersebut terlalu dini, maka muncul lagi sebuah sangkalan “Only one great game and they lost their mind” yang menentang para penggemar United.
Ya benar, di pekan ke-37, United justru kembali ke penyakit lama. Bermain di Old Trafford, United justru frustasi menghadapi sang penghuni dasar klasemen The Black Cat Sunderland. Sunderland yang sebelumnya juga telah mengimbangi Manchester City di Etihad serta menundukkan Chelsea di Stamford Bridge. Tim asuhan Gustavo Poyet ini memang sedang berjuang untuk keluar dari zona degradasi yang sudah hampir satu musim dihuni oleh mereka. Skor 0-1 untuk Sunderland langsung mengubah posisi mereka di klasemen dan keluar dari zona degradasi. Dengan hasil ini, bisa jadi muncul kembali ocehan untuk United dari fans “Moyes and Giggs like father like son”. Ya mungkin satu pertandingan belum bisa menggambarkan masa depan sang caretaker, tetapi setidaknya dia bisa belajar bahwa tidak gampang melatih dalam tekanan besar.
Di pertandingan berikutnya, MU kembali dengan bertanding melawan Hull City dengan sang caretaker Ryan Giggs. Skor 2-0 hingga pada menit 70 sudah membayangi kemenangan MU. Tetapi yang buat heboh adalah masuknya sang pelatih menggantikan Lawrence pada menit 70. Bagaimana mungkin seorang pelatih bermain dan bisa menganalisa permainan untuk menentukan strategi, formasi dan pergantian pemain. Meskipun pada akhirnya meraih poin penuh dengan skort 3-1, tetapi kejadian ini mengingatkan saya kepada salah satu teman yang konon katanya pelatih satu tim sepakbola di sebuah kampus. Dia yang menjadi pelatih, tetapi dia juga ikut bermain. Layakkah teman saya ini dikatakan “like father like son” nya Ryan Giggs? Hal inilah yang membuat saya ngakak, pelatih di sepakbola profesional ternyata bisa juga melakukan keputusan seperti itu. Seperti saat kami bermain sepakbola di becek-becek dengan satu orang yang mengatur (bukan pelatih) dan berganti-gantian posisi, bahkan seorang kiper bisa jadi striker.
Hahaha 🙂
Hal ini sudah sangat jarang ditemukan di sepakbola internasional. Yang biasa terjadi hanyalah seorang bek atau gelandang atau striker menjadi kiper jika kiper utama dan kiper cadangan mendapat kartu merah atau cedera.